Selamat Datang

Selamat membaca. Semoga bermanfaat !

Minggu, 14 September 2014

KLIA 2

KLIA 2 diklaim sebagai bandara low budget terbesar 

       Efektif mulai Mei 2014, seluruh maskapai penerbangan berbudget rendah yang beroperasi dari dan ke Kuala Lumpur dipindahkan ke klia 2 sebagai pengganti LCCT yang lama. Lokasinya berdekatan dengan KLIA. Layanan bus bandara seperti Aerobus, Skybus dan Airport Coach juga KLIA Express dan KLIA Transit sudah terhubung ke bandara low cost ini.





Senin, 25 Agustus 2014

LIKU-LIKU MENGURUS BPJS MANDIRI

       Tahun 2014 diawal bulan Agustus, aku mengurus BPJS di tempat tinggalku. Sebelumnya aku sudah mencoba mendaftarkan diri secara online dari laptopku di website BPJS. Tetapi lalu lintas website itu sangat sibuk sehingga sulit untuk membukanya. Pada saat sudah terbuka dan sampai pada tahap memasukkan data, ada satu kolom yakni tanggal lahir yang tidak bisa diketikkan data. Sungguh melelahkan.
       Akhirnya pada pagi hari berikutnya, sekitar pukul 9 pagi, aku pergi ke kantor BPJS untuk mengambil formulir. Maksud hati setelah mengisi data-data akan langsung dikembalikan, tetapi ternyata tidak bisa demikian karena untuk mengembalikan data, peserta harus mengambil nomor antrian. Pada pukul 07.30 nomor antrian sudah habis. Karena itu aku kembali ke kantor BPJS pada keesokan harinya pada pukul 06.30 dengan membawa semua berkas-berkas yang diperlukan yakni lembaran formulir yang sudah diisi dan ditandatangani oleh pemohon dan ditempeli pasphoto ukuran 3x4, foto copy KK dan KTP. Tapi apa yang terjadi saat aku tiba di lokasi?
       Aku menuju pintu gerbang yang masih terkunci, tampak orang-orang hanya santai duduk dibawah pohon, sebagian lagi duduk di trotoar dan ada juga yang sedang ngopi di warung didekatnya. Aku tidak menemukan antrian orang yang sedang berbaris tetapi deretan-deretan helm dan botol minum kemasan yang diletakkan berjajar-jajar sebagai pengganti orang yang antri.
      Ternyata antrian telah mengular. Aku sudah berada di posisi ke 84 saat itu. Mengapa aku bisa tahu, itu karena antrian dibuat dalam 4 barisan. Masing-masing barisan berisi 25. Ketika aku bertanya jam berapa mereka yang mendapat nomor antrian kecil itu tiba dilokasi. Jawabannya adalah pukul 2 dinihari. Astaga.
       Pagar dibuka tepat pukul 07.30. Sesaat sebelum satpam sampai didepan pagar, para calon peserta bergegas menuju barisan antrian menggantikan tugas antrian helm dan botol minum mereka. Tidak ada kericuhan, semua berjalan tenang. Para helm dan botol yang ditinggalkan oleh pemiliknya, didiskualifikasi. Akhirnya aku mendapat nomor antrian 78. Lumayan, tetapi tetap saja akan lama. Menurut yang sudah pernah antri sebelumnya, nomor 78 selesai kira-kira pukul 15.00.
       Satu persatu calon peserta menuju ke pelataran gedung dan dipersilahkan duduk dibawah tenda yang sudah disediakan. Sementara itu satpam memanggil 25 peserta pertama untuk memasuki gedung. Ada sekelompok orang yang memasuki gedung tanpa nomor antrian, ternyata mereka adalah peserta yang hendak mencetak kartu dan mereka yang hendak merubah data.
       Ketika nomor antrian didalam sudah sampai nomor 7, jam menunjukkan pukul 08.30 ada seorang bapak paruh baya yang menghampiriku dan bertanya berapa nomor antrianku. Dengan sopan aku menjawabnya,"78, Pak. Masih lama", sambil tersenyum. Bapak itu lalu menyodorkan nomor antriannya padaku sambil mengatakan bahwa ia tidak jadi mengantri karena data-data yang dibawanya masih kurang. Ia akan kembali lagi keesokan hari. Saat menerima nomor antriannya yang ternyata adalah nomor, 28! Aku sangat berterima kasih padanya. Tetapi ada kejadian yang sangat menggelitik pada saat itu. Disebelah kananku ada seorang ibu yang begitu antusias mengajak aku menukar nomor dengannya. Nomornya 30. Aku menjawabnya," Kan, sudah dekat. Kita hanya beda 2 nomor, Bu". Tetapi dengan berbagai modus, dia berusaha menukar nomornya itu. Tetapi aku hanya tersenyum. Sedari aku duduk disampingnya selama 1 jam, kami tidak saling menyapa. Ia juga kelihatan tenang-tenang saja. Tetapi oleh karena kejadian yang kualami, ia berubah agresif dan penuh emosi sampai-sampai memakai jurus kata-kata bahwa anaknya sedang dirawat di ICU segala.
       Hanya berselang beberapa saat, seorang bapak dibelakangku meminta nomor antrianku yang 78 itu, alasannya untuk mengurus 2 KK sekaligus, tentu saja kuberikan. Lalu aku pergi meninggalkan tempat dudukku dan duduk disebelah seorang ibu yang berusia 64 tahun. Namanya Ibu Siti Aisyah. Aku mengetahui nama beliau keesokan harinya. Ibu itu tampak santai saja dan kami mengobrol seputar hal-hal ringan.
       Tak lama setelah itu, datanglah sepasang suami istri yang menghampiriku dan bertanya," Ibu ini yang tadi dapat antrian nomor muda ya?". Waduh...ada lagi nih. Dia lalu berkata, sebaiknya nomor itu diberikan kepada seorang ibu haji yang kehabisan nomor antrian. Ibu Haji itu datang dari Ciampea dan ini adalah kedatangannya yang kedua, dan tetap tidak mendapat nomor.
       Sebelum aku menjawab apa-apa, sudah ada orang yang menyeletuk dari belakang," Salah sendiri tuh Bu Haji, datangnya siang-siang, biar tiga kali datang juga enggak bakal dapat nomor kalo jam segini baru sampai. Kalau ibu ini dapat nomor kecil dikasih ama orang mah, itu udah rejekinya, Bu". Jawaban yang ketus tetapi memang benar adanya. Aku cuma senyum-senyum lantaran nomor antrian 78-ku telah diberikan pada bapak tadi.
       Maka pada pukul 11.30 terdengar lagi panggilan dari satpam agar peserta nomor antrian 25 sampai 50 dipersilahkan memasuki ruangan. Aku agak ragu, apakah akan terpotong antrianku dengan waktu istirahat para petugas BPJS. Tetapi sungguh beruntung, saat nomor 28 dipanggil, sang petugas berkata, setelah nomor antrian 28 waktunya istirahat. Lega sekali.
       Coba bayangkan, hanya ada 3 buah loket saja didalam sana. Loket I untuk penyerahan data peserta baru BPJS, yakni rombonganku ini. Loket II khusus untuk PNS, ABRI dan Perubahan Data. Loket III untuk mencetak kartu. Astaga, pantas lama sekali. Mengapa tidak ditambah lagi loketnya? Agar pelayanan bisa maksimal dan tak perlu menunggu hingga pukul 5 sore.
       Saat aku sudah selesai didata, aku memperoleh lembaran kertas berisi nomor Virtual Account dari 3 buah bank, yakni Bank BNI, BRI dan Mandiri. Saat keluar dari ruangan ada sepasang mata yang mempelototi aku, yakni milik si ibu yang bermodus tadi. Hihihi...
       Aku tidak berniat langsung menyelesaikan pembayaran dan mencetak kartu pada hari yang sama karena aku masih harus membeli sesuatu untuk keperluan anakku. Jadi aku membayar di ATM Mandiri dan kembali keesokan harinya. Aku kembali pada pukul 09.30 dan namaku dipanggil pukul 11.30. Saat akan mencetak kartu peserta diharapkan membawa KK asli, KTP pemohon, dan atau surat kuasa bila mewakilkan pada orang lain.
       Jadi kesimpulanku adalah berjubel-jubelnya antrian calon BPJS dikarenakan:
       1. Sedikitnya Kantor BPJS, contohnya di tempat tinggalku, satu kantor mengurusi orang di 40
           kecamatan.
       2. Sedikitnya loket pelayanan pendaftaran baru, contohnya ditempat tinggalku, hanya satu loket.
       3. Karena penyebab nomor 1 dan 2 menyebabkan calon peserta harus pagi-pagi mengantri walau
           dengan cara yang sedikit aneh dengan mewakilkan helmnya, botol minumannya ataupun sandalnya,
           sehingga tanda pengumuman bahwa antrian dimulai pukul 07.30 tidak berlaku.
       Oleh sebab itu, mudah-mudahan kedepannya, pemerintah dalam hal ini sebagai penyelenggara BPJS dapat membenahi dan meningkatkan mutu pelayanannya mulai dari pendaftaran calon hingga menjadi peserta   BPJS. Kita percaya pada kinerja pemerintah yang semakin hari akan semakin baik ini.



    

PENGALAMAN BEROBAT DENGAN DOKTER SPESIALIS SALURAN CERNA

       Terketuk hatiku untuk berbagi pengalaman yang dialami oleh salah satu anggota keluargaku dalam perjalanannya mencari kesembuhan dari penyakit wasir yang dialaminya. Sebut saja namanya Abang.
Abang berusia sekitar 20 tahun pada tahun 1987 ketika pertama kalinya ia mengalami pendarahan pada saat buang air besar. Abang tidak mengalami sakit perut ataupun mulas sebelumnya. Hanya saja ia sadar bahwa ia baru saja mengonsumsi minuman beralkohol walau hanya sedikit jumlahnya. Pendarahan itu berhenti dengan sendirinya dalam beberapa hari tanpa diobati. Sehingga Abang yakin pada saat itu ia menderita wasir.
       Karena usia muda, Abang tidak begitu peduli pada masalah kesehatan. Oleh sebab itu ia tidak menjalani pengobatan apapun. Pendarahan akan terjadi lagi apabila Abang kembali mengonsumsi minuman beralkohol dan memakan makanan yang terlalu pedas. Abang menyadarinya setelah kejadian berulang-ulang hingga tahun 1995, Abang baru mulai berpantang. Ia tidak lagi sering-sering minum minuman beralkohol dan makan makanan yang berbumbu tajam serta pedas.Tetapi namanya juga Abang, sesekali dilanggarnya aturan yang dibuatnya sendiri. Maka pendarahanpun akan kembali terjadi pada saat ia buang air besar.
       Pada tahun 2007, Abang mengalami pendarahan hebat tanpa melalui acara salah makan. Pendarahan terjadi hampir 1 minggu lamanya. Karena itu Abang agak khawatir dan mulai berobat pada salah satu dokter umum yang praktek tak jauh dari rumahnya. Obat yang diberikan adalah Anusol. Abang juga disarankan berolahraga dan berpantang makanan yang berbumbu tajam serta pedas dan tentu saja alkohol.
       Abang hanya sembuh sementara pada saat ia menggunakan obat saja, setelah itu pendarahan terjadi lagi. Abangpun mulai was-was karena perutnya kini mulai terasa panas dan sedikit melilit. Abang menghentikan pengobatan di klinik dokter praktek tersebut setelah 6 bulan tidak kunjung membaik. 
       Abang mulai berobat di Klinik Spesialis di bilangan Kebayoran Lama dan pada saat itu diberi Ardium. Pengobatan berlangsung kurang lebih 4 bulan. Pada pertengahan tahun 2008, Abang yang masih selalu mengalami pendarahan pada saat buang air besar, berobat di RS. Cinere. Oleh dokter spesialis penyakit dalam disana disarankan untuk dirontgen perutnya.
       Abang yang sudah kepalang tanggung berobat kesana kemari dan sangat  ingin segera sembuh akhirnya menjalani pemeriksaan rontgen. Hanya saja untuk rontgen perut, Abang harus berpuasa dahulu dan sesaat sebelum pemeriksaan, dimasukkanlah cairan ke dalam usus besarnya melalui anusnya. Istilahnya dipompakan cairan kedalam usus besarnya. Setelah cairan dipompakan Abang langsung difoto. Selesai difoto Abang disuruh BAB untuk mengeluarkan semua cairan tersebut.
       Ketika ditanya tentang proses rontgen tersebut, Abang cuma meringis dan berkata bahwa ia sungguh sengsara, begitu kira-kira tanggapan Abang. Tetapi  setelah hasilnya keluar, tidak ada kelainan berarti dan mengkhawatirkan yang dialami Abang. Dokter tidak menemukan ada benjolan dan lain-lain dalam foto rontgen. Abang diberi Sulcolon dan disarankan rajin berolahraga serta berpantang.
      Pengobatan tidak mengalami kemajuan apa-apa. setelah lebih dari 6 bulan, pendarahan mulai berhenti tetapi perut Abang sering mulas dan terasa panas. Abang merasa tidak nyaman tetapi karena sudah tidak berdarah lagi pada saat BAB, ia tidak mencari tahu penyebab mulas dan panas diperutnya lebih jauh.
       Pada awal tahun 2009, Abang kembali mengalami pendarahan. Kali ini diserta lendir. Abang sedikit khawatir dan mulai banyak bertanya pada teman dan kolega perihal penyakit wasir. Pada suatu hari, Abang yang sedang mengantar istrinya untuk kontrol IUD di sebuah rumah sakit swasta, bertanya kepada dokter spesialis kandungan istrinya tentang penyakit wasir dan metode pengobatannya.
       Tentu saja sang dokter tidak bisa menjelaskan secara rinci, tetapi beliau menyarankan agar Abang mencari seorang dokter spesialis penyakit dalam ahli saluran pencernaan, atau gastrolog istilahnya. Karena informasi inilah Abang menjadi optimis untuk memperoleh kesembuhan. Maka sejak hari itu Abang rajin browsing di Internet untuk mencari rumah sakit yang terdapat di Jakarta dan sekitarnya untuk mencari seorang Gastrolog.
       Akhirnya, didapatkanlah 2 buah rumah sakit swasta yang memiliki gastrolog, yakni RS Medistra dan RS MMC. Di RS Medistra ada 1 orang profesor doktor dokter spesialis gastrologi ini. Sedang di RS MMC saat itu ada 2, yakni seorang profesor doktor dokter spesialis gastrologi dan seorang dokter spesialis penyakit dalam ahli gastologi. Diputuskan oleh Abang untuk memilih RS MMC karena fee untuk prof-nya lebih murah Rp. 100.000. Abang memang pandai berhitung.
       Pertama kali bertemu dan berkonsultasi, sang prof. menanyakan secara rinci sekali perihal penyakit yang diderita Abang. Karena Abang sudah berobat kemana-mana, maka Abang membawa serta semua dokumen pemeriksaan serta resep-resep obatnya terdahulu. Sang prof. segera memutuskan Abang akan menjalani pemeriksaan kolonoskopi untuk mengetahui secara pasti penyebab pendarahannya.
       Hanya dua hari kemudian Abang sudah menjalani pemeriksaan tersebut. Abang berpuasa selama 8 jam dan diberi obat pencahar ringan untuk membersihkan saluran cernanya. Pagi-pagi sekali Abang sudah tiba di RS MMC dan masuk ke ruang operasi. Ternyata Abang pada saat itu sudah dinyatakan Suspect Cancer.
Prof. yang menangani adalah Prof. Dr.dr. H. A. Aziz Rani, SpPD-KGEH.
       Setelah keluar dari ruang steril, Abang dinyatakan bebas kanker dan tumor. Hasil foto menunjukan adanya pembengkakan pada usus besar Abang. Prof. langsung mengambil tindakan STE atau mengempiskan pembengkakan tersebut. Rupanya Abang mengalami radang pula pada usus halusnya. Abang diberi antibiotik dan probiotik. Abang juga tidak dirawat. Hanya beristirahat selama 6 jam di ruangan One Day Care.
      Seminggu kemudian Abang kembali kontrol ke RS dan dinyatakan sudah sembuh. Sejak saat itu hingga kini Abang tidak pernah lagi mengalami pendarahan pada saat BAB, pun rasa panas dan mulas diperutnya.
Kini sudah tahun 2014 dan Abang hanya kembali 2 kali ke prof. untuk sekedar berkonsultasi bila Abang merasa kurang fit. Sungguh luar biasa.
       Bagi yang membutuhkan informasi mengenai jadwal praktek Prof. Aziz Rani, silahkan menghubungi 
       RS. MMC Kuningan, Jakarta. Sebagai informasi tambahan, kini sudah ada beberapa Dokter Spesialis Penyakit Dalam Kedokteran Gastroenterologi dan Hepar di sana, juga yang spesialis bedah saluran cerna dewasa maupun anak-anak.
Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati.

Senin, 07 Juli 2014

LIBURAN DI KUALA LUMPUR

       Liburan sekolah tahun 2014 ini kami berangkat menuju Kuala Lumpur, ibukota Negeri Jiran untuk liburan keluarga. Liburan kali ini bertepatan dengan tiga momen besar lainnya, yakni Piala Dunia 2014, yang sudah memasuki babak delapan besar, Pemilu Presiden 2014 yang tinggal menghitung hari, dan Ramadhan yang sudah memasuki minggu pertama. Kami merencanakan akan tinggal selama 4 hari 3 malam di KL untuk liburan kali ini.
       Dengan maskapai Lion Air kami tiba di KLIA 2, terminal bandara berbudget rendah yang baru beroperasi pada akhir bulan Mei 2014 yang diklaim sebagai terminal berbudget rendah terbaik dan terbesar saat ini. Dari sana kami menggunakan jasa AEROBUS menuju KL Sentral. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam. Tiket bus dapat dibeli di loket yang terdapat di L1 disebelah Pintu Exit. Harganya @ RM 10 untuk tujuan KL Sentral.







       Karena kami menginap di Petaling Street, maka kami menumpang MRT/ Commuter Line menuju stasiun terdekat yakni Kuala Lumpur yang jaraknya hanya satu perhentian dari KL Sentral. Stasiun Kuala Lumpur berintegrasi dengan Stasiun LRT Pasar Seni. Hotel kami hanya berjarak kurang lebih 800 meter dari tempat ini dan tidak jauh dari Halte Bus Bangkok Bank. Lokasinya sangat strategis karena berdekatan dengan Central Market, Kasturi Walk, Chinatown, Stasiun Masjid Jamek, Stasiun Pasar Seni dan Stasiun Kuala Lumpur. Ada dua gerai 7/11 dan KK 24, minimarket-nya KL. Sementara untuk tempat makannya melimpah ruah.

Free Bus GO KL Purple Line, Green Line dan Blue Line. Penampakannya sama semua. Rute dan tujuan yang membedakannya, bisa dilihat pada  layar / display didepan BUS GO KL.
       Tempat pertama yang kami kunjungi pada sore hari pertama ini adalah Menara Kembar Petronas. Dengan menumpang BUS GO KL 'Purple Line' dan 'Green Line' yang dioperasikan secara gratis, kami tiba di KLCC. Bagian bawah dari KLCC merupakan pusat perbelanjaan yang megah, yakni  SURIA KLCC. Turis lokal maupun mancanegara banyak yang datang ke lokasi ini hanya untuk mengabadikan gambar Petronas Twin Tower ini. Mereka ini dapat ditemukan di bagian samping pintu masuk utama KLCC. Ada sebuah taman dengan air mancur yang cukup luas untuk para pengunjung melepas lelah dan berfoto.
       Setelah puas berfoto, kami menuju ke Pavillion, sebuah mall perbelanjaan yang paling anyar di KL. Letaknya di Bukit Bintang. Di area ini banyak sekali terdapat pusat perbelanjaan, salah dua diantaranya adalah Sungei Wang dan  Starhill Gallery. Perjalanan menuju kesana juga menggunakan BUS GO KL. Suasana pada malam hari sangatlah ramai oleh turis mancanegara terutama turis-turis bule. Selain berbelanja dan memenuhi pusat-pusat kuliner, para turis sibuk berfoto-foto ria.

Starhill Gallery di Jalan Bukit Bintang

Suria KLCC


Petronas Twin Tower. Peace!

   
       Di area ini terdapat sebuah food street yang sangat terkenal yakni Jalan Alor. Ketika tiba dilokasi, kami benar-benar berbaur dengan ratusan manusia penikmat kuliner dari berbagai belahan dunia serta warga lokal. Begitupun dengan restoran serta gerai makanan yang ada disini, juga menyediakan menu-menu dari berbagai belahan dunia. Tetapi yang terbanyak adalah Thai Food, Chinese Food dan Malay Food.
       Restoran dan gerai Thai Food menyajikan macam-macam seafood dengan bumbu khas Thailand. Sedangkan restoran Chinese Food menyajikan juga macam-macam seafood dengan bumbu khas masakan chinese peranakan Malaysia. Tak ketinggalan tentunya adalah kuliner khasnya Malaysia, yakni Penang Char Kwar Teow. Harga makanan sangat bervariatif mulai dari RM 7 sampai RM 160. Untuk satu porsi wantan mee dengan potongan daging bebek atau ayam dihargai RM 7. Satu porsi nasi dengan lauk pilihan seperti lemon chicken atau sweet and sour chicken dihargai RM 8. Sedangkan untuk char kwar teow seporsinya dihargai RM 6.Untuk keluarga yang membawa anggota hingga enam orang atau lebih dapat memesan set menu seafood yang dapat dimasak dengan bumbu sesuai keinginan serta selera masing-masing. Jalan Alor menutup perjalanan hari pertama dengan cita rasa dan kepuasan.


Jalan Alor, Bukit Bintang
       Hari kedua kami menyambangi Murugan Temple di Batu Caves. Perjalanan hampir satu jam lamanya dari stasiun Kuala Lumpur dengan Commuter Line. Itu disebabkan laju Commuter Line yang begitu pelan. Bila melaju lebih cepat mungkin sekitar 20 menit saja.
       Pintu masuk lokasi Murugan Temple tepat berada di pintu keluar stasiun. Terdapat Patung Hanoman berwarna hijau berukuran raksasa yang sudah tampak dari jauh. Area parkir cukup luas berada tepat didepan lokasi dan pada saat itu terlihat sudah banyak bus yang parkir dengan rapi. Ternyata sudah banyak turis yang tiba dilokasi ini dengan bus-bus pariwisata. Kuil bagi umat Hindu ini terletak didalam gua alam yang terdapat pada bukit batu. Untuk mencapai lokasi gua, pengunjung harus menaiki anak tangga yang berjumlah 272 buah yang berada pada tebingnya.
       Didalam gua banyak terdapat burung dan monyet liar yang sudah tinggal dilokasi ini turun temurun. Disebelah kiri pintu masuk gua juga terdapat sebuah gua kelelawar yang tentunya dihuni oleh kelelawar. Di dalam Dark Cave ini terdapat kelelewar liar yang hidup turun temurun. Bisa dibayangkan berapa banyaknya jumlah kelelawar serta kotorannya yang terdapat dilantai gua serta bau dari kotoran tersebut.


Pintu menuju Stasiun Batu Caves tepat berada di samping Patung Hanoman.







Gerai souvenir








       Setelah puas berkeliling, kami meninggalkan lokasi menuju ke Chow Kit yang juga merupakan area Chinatown di KL. Chow Kit cukup ramai terutama untuk wisata kulinernya. Kami mampir disebuah Food Court di penghujung Jalan Chow Kit menuju Jalan Tuanku Abdul Rahman. Menunya adalah Chinese Food ala Hainan. Satu set menu nasi hainan komplit dengan lima macam lauk untuk empat orang serta teh tarik dihargai RM 48.
       Kawasan Chow Kit juga merupakan pemukiman bagi mayoritas etnis Tionghoa di KL. Di Chow Kit ini berpadu serasi antara kemewahan PWTC, sebuah pusat perbelanjaan mewah di daerah ini, hotel-hotel bintang lima dan rumah toko dengan nuansa etnik Tionghoa serta puluhan hotel murah serta hostel. Dibalik deretan-deretan ruko terdapat rumah-rumah petak penduduk serta bangunan rumah susun. Seperti masyarakat etnis Tionghoa pada umumnya, mereka berprofesi sebagai pedagang. Daerah ini mirip-mirip dengan daerah Pinangsia di daerah Kota, Jakarta Barat di Indonesia.
       Setelah puas berkeliling, kami menuju ke Thean Hou Temple, sebuah kuil Budha di daerah Persiaran Endah. Kami naik Commuter Line dan turun di Mid Valley. Mid Valley merupakan sebuah pusat perbelanjaan yang cukup mewah dan besar. Dari sini kami naik taxi menuju lokasi dan supir yang baik hati mau menunggu kami selama kurang lebih 30 menit untuk mengambil foto. Kami kembali ke Jalan Petaling dan membayar total ongkos RM 13.




Di Taman Dua Belas Shio


Di depan patung Dewi Kwan Im


Tampak depan gerbang Thean Hou Temple
       Hari ketiga kami mengunjungi Genting Highland. Kami berangkat dari Puduraya Bus Station dengan menumpang BUS GO GENTING. Tiket dapat dibeli langsung di L1 untuk PP sudah termasuk Skyway Train dan Bus. Pada saat kunjungan kami, layanan Skyway Train atau kereta gantung sedang ditutup. Jadi kami memakai angkutan bus yang disediakan pengelola World Resort Genting.
Demikian juga dengan permainan di Outdoor Theme Park juga ditutup sampai tanggal 25 Juli 2014.
     







Eskalator menuju First World Hotel


Wisteria ungu yang cantik dan semua tanaman indoor disini adalah tanaman tiruan atau tanaman plastik.



Banyak papan petunjuk arah yang memudahkan pengunjung untuk menuju ke lokasi tujuan
       Hari terakhir di KL kami gunakan untuk membeli oleh-oleh dan merapikan koper. Untuk souvenir khas Malaysia bisa dibeli di Central Market dan Kasturi Walk. Gantungan kunci bisa diperoleh dengan harga RM 10 untuk 3 buah. Magnet tempelan kulkas dijual seharga RM 15 untuk 3 buah. Pajangan replika Menara Petronas dijual seharga RM 8. Kaos souvenir dijual seharga RM 6, tetapi bahannya sangat rendah mutunya.
       Kami membeli oleh-oleh snack khas Malaysia seperti Dried Prune, Red Dates, Black Dates, Penang White Coffee, Almond Powder, Moon Cake dan Manisan di sebuah toko yang letaknya disebelah Winsin Hotel. Harganya terbilang murah, banyak warga lokal yang berbelanja disana. Puas sudah hati, puas sudah mata, penuh sudah bagasi. Kini saatnya pulang. Ciaoo KL.
      
      
      

      

Sabtu, 31 Mei 2014

MELANCONG KE PENANG

       Pertengahan Mei 2014 akhirnya kesampaian juga niat ke Penang, Malaysia. Budget yang disiapkan adalah lima juta-an, all in untuk dua orang, perjalanan selama 4 hari 3 malam.
       Kami menumpang pesawat Air Asia dan mendarat dengan mulus di Penang International Airport pada pukul 20.00 waktu setempat. Dari airport menuju ke hotel tempat kami menginap di Grand Inn Penang Road, kami menumpang Rapid Bus 401E. Rapid Bus di Pulau Pinang beroperasi hingga pukul 23.00.
       Karena hotel terletak di 72 Penang Road, maka kami turun di halte Hotel Traders, perhentian terakhir sebelum semua Rapid Bus memasuki KOMTAR ( Komplek Tun Abdul Razak ) yang merupakan Terminal Pusat di Pulau Pinang. Setelah memasuki Komtar, Rapid Bus akan melanjutkan perjalanan sesuai dengan rutenya masing-masing. Dengan kata lain, semua armada Rapid Bus akan melewati KOMTAR.

       Karcis Rapid Bus dihitung berdasarkan jauhnya jarak tempuh. RM 1,40 untuk jarak dekat, RM 2 untuk jarak sedang, dan jarak terjauh adalah RM 2,70. Karcis atau tiket dapat dibeli langsung pada saat kita naik dengan menyebutkan tujuan dan membayar tunai kepada supir. Berilah uang pas karena tidak ada uang kembalian.
       Hotel yang kami tempati pada malam pertama di Penang ini memasang tarif RM 108 untuk Standard Room. Kami hanya kena charge RM 90 karena memesan lewat booking.com. Uang jaminan sebesar RM 50 dan dikembalikan saat kita check-out. Proses check-in mudah dan cepat. Resepsionis standby 24 jam. Hotelnya cukup bersih dengan kamar mandi didalam dan memiliki jendela yang menghadap langsung ke Jalan Penang. Tersedia Wi-Fi bagi semua tamu hotel dan sinyalnya bagus.

View dari jendela kamar hotel Grand Inn Penang Road

Diseberang hotel Grand Inn Penang terdapat cafe dan gerai 7/11
       Untuk urusan makanan, Penang adalah tempatnya. Kami pergi ke berbagai tempat untuk melihat-lihat wisata kuliner yang ditawarkan, tetapi tentu saja akhirnya kami hanya memilih yang sesuai dengan selera kami, yakni aman diperut dan aman dikantong. Namanya juga pelancong budget terbatas. Tetapi harga makanan umumnya cukup murah dan terjangkau, mulai dari RM 3,5 sampai RM 5,5 untuk gerai dipinggir jalan ataupun food court. Para penjaja Mie Hokkian maupun Bubur mencantumkan harga makanan sesuai dengan ukuran porsi. Porsi kecil seharga RM 3,5 dan porsi sedang RM 4,5 serta porsi besar RM 5,5. Mereka juga menawarkan lauk tambahan bila kita berminat. Tetapi porsi yang disajikan umumnya selalu yang kecil bila kita tidak meminta porsi yang lebih besar. Cukup fair.
       Untuk restoran-restoran berkelas dan bertempat di mall atau sejenisnya, harganya berkisar antara RM 16 sampai RM 25 tetapi dengan variasi dan pilihan menu yang lebih beragam. Mereka rata-rata fasih berbahasa Hokkien, Mandarin, Melayu dan Inggris. Bahkan tukang becakpun jago bahasa Inggrisnya.
       Tempat-tempat yang kami kunjungi pada hari kedua adalah Kek Lok Si Temple dan Batu Ferringhi. Sebenarnya kami juga berencana ke Bukit Bendera ( Penang Hill ), tetapi karena cuaca siang itu sudah sangat mendung dan awan hitam menggantung di atas bukit, membuat kami mengurungkan niat dan memilih membatalkan rencana.
       Menuju ke Kek Lok Si Temple dari Terminal Komtar dengan Rapid Bus memakan waktu 1 jam. Kami  turun di halte dekat Klinik Bersatu. Dari sini sudah tampak megahnya Kek Lok Si Temple yang dibangun diatas bukit dengan tebing batunya. Perjalanan menuju lokasi kuil cukup melelahkan bila kita berjalan kaki karena jalannya yang menanjak dan jaraknya kurang lebih 1 km dari halte.

Mamiberanimimpi
Gerbang Depan

mamiberanimimpi
Parkiran didepan kuil

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi



mamiberanimimpi

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi

Pemandangan dari atas kuil

mamiberanimimpi

Dibagian basement terdapat pertokoan dan rumah makan. Tepat disamping tangga menuju basement terdapat sebuah toko souvenir yang menjual macam-macam pernak-pernik, baik yang berhubungan dengan Buddha maupun souvenir khas Penang dan Malaysia umumnya, seperti gantungan kunci dan pajangan.

Karena saat berkunjung tidak bertepatan dengan hari raya maka banyak toko yang tutup

Sebuah kuil di seberang Kek Lok Si Temple

       Sore harinya kami menuju Batu Ferringhi dengan menumpang Rapid Bus jurusan Teluk Bahang. Terdapat banyak resort dan hotel berbintang dilokasi ini, meskipun ada juga hotel-hotel budget diantaranya. Bar-bar dan tempat minum diarea terbukapun terlihat banyak. Sejatinya tempat ini lebih disukai oleh turis-turis bule dan pelancong yang berkantong tebal.
       Sebelum kesana, kami mengetahui bahwa pada hari itu, tepatnya malam itu sedang diadakan bazaar malam. Didalam bayangan kami sebuah bazaar malam pastilah ramai dengan pengunjung dan dipenuhi oleh pedagang segala rupa. Ternyata meleset perkiraan kami. Bazaarnya terhitung sangat-sangat sepi bila dibandingkan dengan pasar malam di Indonesia.
       Barang-barang yang dijajakan sangat sedikit. Hanya ada kurang dari 10 kios tenda pakaian dan beberapa pedagang jam tangan. Masih lebih bagus jam-jam yang dijajakan di kaki lima di Jakarta, hehehe...
       Souvenirpun kurang beragam. Ada kaos-kaos bertuliskan "Penang" tetapi bahannya sangat tipis. Gantungan kuncipun tidak menarik hati kami. Kurang lucu, biasa saja. Kamipun akhirnya sampai di Pusat Jajanan yang dipenuhi turis asing, 80% adalah bule. Mereka merokok, makan dan minum bir ditemani pramusaji lokal.
       Makanannya cukup beragam, mulai dari masakan aneka seafood, char kwetiow, pasembur, roti cane, nasi kandar dan kebab sampai hidangan vegetarian juga ada. Harganya bervariasi mulai dari  RM 5 sampai RM 12 perporsinya. Kami memesan Fried Bee Hoon Singapore seharga RM 5,5 dan Pok Choy tumis serta Mix Vege masing-masing seharga RM 8 serta nasi putih seharga RM 2 seporsinya. Porsi makanannya kecil sehingga cukup untuk dua orang.
       Puas makan kami menuju gerai buah segar dan rojak. Sepotong buah pepaya, semangka dan melon dijual masing-masing seharga RM 1, sedangkan sebutir apel potong dijual seharga RM 3. Setelah kenyang, kami segera kembali ke hotel, mengingat perjalanan cukup jauh dan memakan waktu 1 jam.



Resort-resort di Batu Ferringhi tampak dari kejauhan
       Hari ketiga kami menyusuri jalan-jalan, lorong-lorong serta pemukiman penduduk dengan berjalan kaki dari Kimberly House, sebuah hotel bernuansa etnik di Lebuh Kimberly, tempat kami menginap selanjutnya. Sengaja kami menginap di dua tempat berbeda untuk merasakan suasana yang berbeda pula.
       Kimberly House begitu tinggi rating reviewnya di agoda.com. Tidak mengecewakan juga kenyataannya. Stafnya sangat ramah, hotelnya bersih dan bebas asap rokok. Hanya ada 35 kamar dan terdiri dari dua lantai. Lantai atasnya dari kayu dan full karpet. Sebab itu tamu-tamu yang tinggal dilantai atas tidak diperbolehkan memakai alas kaki tetapi disediakan tempat untuk menyimpan sepatu dan sandal berupa sebuah lemari sepatu disamping tangga sebelum para tamu naik ke lantai atas.
       Disamping itu pula terdapat lift khusus untuk menaikkan dan menurunkan bagasi yang dioperasikan secara manual dengan katrol. Tamu yang menginap kebanyakan adalah pasangan, baik pasangan muda maupun mereka yang paruh baya, tetapi anak-anak kecil tidak diperbolehkan. Hanya tampak beberapa remaja yang menginap dengan orangtua mereka. Sepertinya sudah kebijakan pihak hotel yang tidak memperkenankan tamu membawa anak dibawah usia 15 tahun.
        Wi-Fi tersedia gratis bagi semua tamu yang menginap disini dan sinyalnya cukup bagus.

Tampak depan Kimberly House


Ruang duduk dibagian dalam


Lift barang dan lemari sepatu disamping tangga



Meja Resepsionis disebelah kiri dari pintu masuk. Tamu bebas menyeduh minuman berupa teh dan kopi yang disediakan gratis oleh pengelola dan dapat duduk-duduk santai dibangku-bangku yang telah disediakan.
Kamar Standar Double Bed dengan kamar mandi luar


       Menyusuri Georgetown rasanya seperti menyusuri lokasi Kota Tua di Jakarta. Banyak bangunan kuno dan bersejarah serta peninggalan dari jaman kolonial yang terdapat diarea ini. Gaya bangunan mengadaptasi arsitektur Portugis. Salah satu hal yang menarik adalah lukisan-lukisan didinding gedung atau tembok rumah yang sebagian besar dikerjakan oleh seorang seniman Lithuania pada rentang tahun 2010 sampai 2012 dan sebagian lagi adalah karya seniman lain.
       Lukisan-lukisan tersebut menjadi terkenal karena dipotret oleh turis mancanegara dan diposting di dunia maya. Daya tariknya sanggup mendatangkan wisatawan dari berbagai negara, terutama dari Eropa dan Amerika. Beberapa diantara lukisan-lukisan tersebut menjadi spot favorit bagi para turis dan fotografer.











Penant Art
Salah satu spot favorit di Lebuh Armenian
     

Peta yang terdapat di persimpangan antara Lebuh Armenian dan Lebuh Cannon

Bangunan ini terletak di Lebuh Cannon



Lebuh Armenian

mamiberanimimpi
Penjaja es kelapa muda di Lebuh Armenian



       Akhirnya kami sampai di Khoo Kongsi yang terletak di Lebuh Cannon, tidak jauh dari Lebuh Armenian. Khoo Kongsi ini adalah rumah kediaman keluarga Marga Khoo dan keturunannya dari masa ke masa di Pulau Pinang. Tempat ini sudah dijadikan warisan budaya dan tujuan wisata yang dikelola oleh pemerintah daerah. Untuk memasukinya kita membayar RM 10 dan memperoleh sebuah postcart bergambar serta sebuah stiker yang direkatkan di dada sebagai tanda bukti pengunjung. Penjaga loket adalah seorang perempuan paruh baya dari etnis Cina. Sedangkan petugas penjaga didepan adalah seorang pria dari etnis India. Tour dipandu oleh seorang guide lokal dari etnis Melayu.
       Yang menarik pada saat itu adalah rombongan pengunjung sebagian besar adalah turis bule sehingga guidenya menggunakan bahasa Inggris. Tetapi saat dia sudah selesai mengantar rombongan, dia menyempatkan diri menyapa kami dalam bahasa Melayu dengan logat Indonesia yang fasih. Dia seakan sudah tahu kalau kami berasal dari Indonesia. 
       Menurutnya, 80% turis Indonesia yang datang ke Penang tujuannya adalah berobat. Dan 80% dari mereka berobat ke Penang Adventist Hospital. Sisanya yang 20% berobat ke rumah sakit lain yang tersebar diseantero pulau.
       Sempat teringat saat kami berada dibandara Penang, ketika mendengarkan percakapan dari tiga orang yang berbeda, mereka berobat di tiga rumah sakit yang berbeda, yakni Glenagles, Island Hospital dan Adventist. Juga dari obrolan terdengar bahwa rumah sakit favoritnya orang Indonesia adalah Island Hospital. Ternyata berbeda-beda pandangan turis tentang rumah sakit favorit mereka.
       Kembali kepada guide yang menemani para turis tadi yang menurut kami kayak Cak Lontong aja, yang candanya menggelitik di acara ILK dengan versi lawakannya yang selalu menggunakan hasil survey. Walau hasil surveynya tidak sepenuhnya tepat, tapi dia berhasil menebak kami setidaknya, yang memang menyempatkan diri untuk cek kesehatan di Penang Adventist Hospital (PAH). Amazing....

mamiberanimimpi
Didepan gerbang sebelum memasuki lokasi Khoo Kongsi

mamiberanimimpi


mamiberanimimpi

mamiberanimimpi
Loket tiket ada didalam bangunan ini

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi
Kuil

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi
Langit-langit kuil dipenuhi lampion

Lukisan pada dinding kuil












mamiberanimimpi
Didalam ruang museum
       Tujuan selanjutnya ke Chew Jetty, pemukiman para nelayan di Pulau Pinang. Rumah-rumah mereka dibangun diatas air dimana lantainya terbuat dari kayu berlian. Banyak toko-toko yang menjual souvenir dan makanan. Diujung dermaga terdapat sebuah kuil menghadap kearah laut. Sedangkan tak jauh dari situ, tampak aktivitas kapal-kapal feri yang melayani penyeberangan orang dan kendaraan dari pulau menuju daratan utama Malaysia.
       Tidak ada bau amis khas pemukiman nelayan seperti di Muara Angke dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Padahal ada saja orang yang sedang membersihkan dan menyiangi ikan. Tetapi memang tampak ada saluran pembuangan serta pipa air bersih dan hidran untuk pemadam kebakaran. Sanitasinya sangat baik sehingga dapat menarik minat turis asing.
       Disekitar lokasi juga banyak terdapat rumah makan, ada nasi kandar, wonton mie, hokkien mie, seafood dan restoran Indonesia. Harga makanannya  juga bervariasi mulai dari RM 3,5 sampai RM 5.

Kuil didepan Chew Jetty



mamiberanimimpi

mamiberanimimpi


       Kami sebenarnya hendak menuju Cornwill Fort, tetapi karena matahari sudah tinggi dan teriknya tak tertahankan, kami urungkan niat. Kami akhirnya naik Rapid Bus menuju ke Queensbay Mall. Tujuannya selain cuci mata adalah ngadem.
       Queensbay Mall sebenarnya dekat dengan airport karena terletak di area Bayan Baru. Airport terletak di area Bayan Lepas. Mall ini bisa dibilang pusat perbelanjaan yang paling megah di Pulau Pinang.






Relief Gajah sebelum memasuki food court


       Ada sebuah gerai yang menjual es campur yang mana untuk isi es campurnya begitu banyak pilihannya dan harganya sangat bersahabat. Porsi besar untuk dua orang hanya RM 3,5. Disebelahnya ada gerai pie mini yang harganya juga murah meriah dengan topping aneka rasa.
       Puas cuci mata dan perut kenyang, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Awalnya kami berencana ke Hawker Gurney Drive untuk makan malam, namun akhirnya batal karena kami kepincut dengan char kwee teow di depan hotel yang pengunjungnya begitu padat. Padahal jualannya dengan gerobak dorong. Rasanya lumayan enak, harganya RM 3,5 perporsi. Lebuh Kimberly memang ramai pada malam hari dengan jajanan khas Pulau Pinang.

Gerobak penjual char kwee teow di Lebuh Kimberly


Kuliner di Lebuh Kimberly pada malam hari
       Karena jam baru menunjukkan pukul 19.30, kami meneruskan jalan-jalan malam menyusuri Jalan Pintal Tali dan Lebuh Chulia sampai ke Lebuh Carnarvon. Di Lebuh Chulia terdapat banyak bar dan restoran maupun pedagang makanan. Tempat ini terkenal dengan kehidupan malamnya. Sekilas tampak beberapa waria sedang menanti pelanggannya. Kalau dibandingkan dengan waria-waria di Taman Lawang, waria-waria disini sudah ketinggalan jaman alias tua-tua.

Salah satu fasad depan sebuah penginapan di Lebuh Chulia


Salah satu gerobak penjaja sate ayam di Lebuh Chulia
       Hari terakhir di Penang kami habiskan dengan membeli oleh-oleh di Chowrasta Market, Penang Bazaar, Prangin Mall dan Mydin. Ada sebuah toko manisan bernama 'Pak Ali' di Jalan Penang yang menjual aneka macam manisan serta souvenir. Sedangkan di Lebuh Champbell lebih banyak toko-toko pakaian import dari Cina dan Thailand.

mamiberanimimpi

mamiberanimimpi




Menunggu gerai es cendol buka

Jalan Penang

Jalan Penang dengan latar gedung KOMTAR


Pedagang di sepanjang Jalan Penang
       Kami check out pukul 12.00 dan menitipkan bagasi kami pada staf resepsionis hingga pukul 16.00,  sementara kami berjalan-jalan ke Prangin Mall yang letaknya persis didepan Terminal Komtar. Hingga akhirnya tiba waktunya kami menuju ke Penang International Airport untuk kembali ke tanah air.
       Semoga lain waktu dan kesempatan bisa kembali ke Penang. Dahhh...