Selamat Datang

Selamat membaca. Semoga bermanfaat !
Tampilkan postingan dengan label TRAVELLING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRAVELLING. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2015

SEHARI DI SEMARANG

       Membuang penat dan membunuh jenuh tidak perlu liburan seru. Bertandang seharian ke kota Semarang dan menikmati suasana yang lain sudah bisa mengobati penyakit orang Jakarta yang selalu sibuk.
Ada sebuah hotel tua yang masih beroperasi. Masih mempertahankan orisinalitasnya. 


Pasar Johar pasca kebakaran

Pecinan Semarang

Stasiun Kereta Api Semarang Tawang



Gereja Bleduq





Toko di Pecinan
Ini belum termasuk sisi kuliner Semarang yang seru dan menggoda. Lain hari khusus motoin makanan. Hmmmm


Sabtu, 14 Februari 2015

MENGINTIP KERAJINAN KERAMIK DI BANDUNG (BAGIAN DUA: KEBON JAYANTI)


       Saat melintas di Jalan Stasiun Lama, Kelurahan Kebon Jayanti, Kecamatan Kiaracondong, lalu lintas padat karena disepanjang pertigaan terdapat banyak pedagang kaki lima yang menjajakan sayur mayur yang membuat kemacetan. Tetapi setelah memasuki jalan sekitar 200 meter, tepatnya sebelum sampai jembatan, jalan sudah lengang dan tampaklah sebuah toko yang menjual kerajinan keramik. Namanya adalah Perusahaan Kerajinan Keramik "Putra Saluyu" milik pasangan Bapak Jauhari yang berasal dari Garut dan Ibu Maesaroh yang ternyata masih kerabat dekat dari Pak Wawan, pemilik kerajinan keramik dari Sukapura, tak jauh dari Kebon Jayanti.

Lorong menuju kedalam pabrik "Putra Rukman"
       Kisah perjalanan industri keramik di Kebon Jayanti ini lebih memilukan lagi karena sebelum krisis moneter masih ada sekitar 38 toko yang bergerak dibidang kerajinan keramik dan beberapa diantaranya memiliki perusahaan kerajinan keramik. Tetapi setelah krisis moneter melanda, hanya tersisa 4 saja yang bertahan. Dan yang sangat tragis, awal tahun 2015 ini gugur lagi dua perusahaan sehingga tersisalah 2 saja yang masih beroperasi. Pak Jauhari sejak beberapa tahun yang silam memindahkan perusahaannya keluar dari daerah Bandung ke Garut dan Cianjur karena ongkos produksi yang tinggi. Alhasil, perusahaannya masih bisa bertahan.
       Keramik yang dihasilkan oleh perusahaan keramik ini berbeda dengan milik Pak Wawan. Keramik "Putra Saluyu" lebih memilih memproduksi jenis piring hias, teko hias, guci, pajangan serta tempat payung. Warna-warnanya cerah dengan motif aneka bunga dan hiasan dengan dasar keramik putih. Pangsa pasar yang dibidik oleh Pak Jauhari dan Ibu Maesaroh adalah Indonesia bagian timur, khususnya Papua. Terlihat dari tumpukan kardus-kardus besar yang merupakan paket yang siap dikirim ke Papua dalam beberapa hari mendatang. Karena perusahaannya berada diluar Bandung maka Beliau harus bolak-balik mengangkut hasil kerajinannya setiap beberapa hari.

    
        Tepat disebelahnya terdapat juga sebuah perusahaan keramik milik Pak Oma Rukman, nama perusahaannya adalah "Putra Rukman". Saat pertama memasuki toko sekaligus pabrik keramik tersebut, saya harus melewati sebuah lorong yang dipenuhi kardus. Sebelum akhirnya saya sampai di 'surga keramik' yang menawarkan banyak sekali jenis kerajinan keramik mulai dari pot yang berukuran mini sampai diameter  50 cm. Ada juga vas, tempat payung, piring hias serta guci aneka model.

    
       Selain keramik berwarna dasar putih biru, terdapat juga yang berwarna hijau dan coklat. Harganyapun sangat terjangkau, mulai dari Rp. 8.000 sampai ratusan ribu. Selain pabrik yang ditempatinya sekarang yang juga sekaligus adalah rumahnya yang ditempatinya bersama dengan isteri dan keluarga dari putranya, Pak Oma memiliki sebuah pabrik lagi di daerah Kopo yang khusus memproduksi pot-pot berukuran besar serta pesanan khusus. Beliau menawarkan saya untuk berkunjung ke pabriknya tersebut, tetapi karena keterbatasan waktu, saya mengurungkan niat dan pasti pada kunjungan berikut akan mewujudkannya.

    
      Pada saat ingin berpamitan, saya berpapasan dengan putera dari Pak Oma yang berjalan memakai alat bantu. Rupanya putera beliau terkena sakit kanker tulang dan baru saja selesai menjalani pengobatan untuk jangka waktu yang cukup lama. Semoga tetap diberi karunia kesehatan dan usaha yang lancar. Semoga lain waktu dan kesempatan bisa bersilahturahmi kembali.


MENGINTIP PENGRAJIN KERAMIK DI BANDUNG (BAGIAN SATU: KELURAHAN SUKAPURA)


       Pada pertengahan Februari 2015, saya berkesempatan liburan ke Bandung. Waktu yang cuma seharian ini dimanfaatkan sebaik mungkin dengan mengunjungi sentra keramik di Bandung, tepatnya di kecamatan Kiaracondong.
       Pada kesempatan yang pertama, yang saya kunjungi adalah Bapak Wawan, pemilik Kosimkeramik yang berada di Gang Salak, kelurahan Sukapura. Nama Kosimkeramik diambil dari nama ayahanda Pak Wawan, Pak Kosim. Pada saat kunjungan kali ini, sangat kebetulan saya bertemu dengan keduanya.
       Kerajinan keramik yang ditekuni Pak Wawan saat ini adalah pekerjaan yang sudah dilakukan turun temurun mulai dari kakeknya yang pada awalnya adalah pengrajin gerabah. Saat ini hanya ada satu saja industri keramik yang bertahan di kelurahan Sukapura. Dahulu sebelum krisis moneter melanda, konon ada enam perusahaan serupa yang berkembang pesat didaerah ini. Ciri khas dari keramik produksi Pak Wawan adalah pada proses pembakaran dan pewarnaannya.

    
       Keramik yang baru dibentuk akan dijemur terlebih dahulu selama lima sampai satu minggu lamanya. Pembakaran pertama dilakukan selama kurang lebih 5 jam dengan suhu sekitar 700 derajat celsius. Kemudian akan diberi lapisan warna dan dibakar kembali pada suhu 1300 derajat celsius selama kurang lebih tujuh jam. Penanganan akan berbeda tergantung dari warna keramik yang diinginkan. Untuk warna-warna terang semisal putih dan krem, suhunya lebih rendah dalam pembakaran dibandingkan dengan yang diberi lapisan warna gelap. Hasil akhir dari bakaran yang tekniknya dikerjakan ditempat ini menampilkan warna yang glossy dan tahan lama serta tidak mudah tergores.
       Adapun jenis keramik yang masih dikerjakan saat ini adalah pot dengan ukuran mulai dari diameter 20cm sampai dengan yang berdiameter 100cm. Pak Wawan menerima pesanan pot dengan rentang waktu pengerjaan sekitar satu bulan lamanya. Adapun motif pot yang dihasilkan adalah polos dan jenis tempelan atau motif timbul.
       Untuk harganya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pot yang sama tetapi dengan teknik pembakaran yang berbeda, karena akan berbeda pula kekerasan serta tampilan akhirnya. Untuk pot berdiameter terkecil dapat diperoleh seharga Rp. 45.000 dan diameter terbesar dengan rentang harga Rp. 300.000 sampai Rp. 600.000. Untuk pot pesanan tertentu harga sangat bervariasi.

Pot yang sudah siap dikirim.
       Pak Kosim bercerita, pada awal tahun 70-an, saat Beliau masih muda, perusahaan yang dimilikinya ini sangat terpencil letaknya. Jalan didepan rumahnya hanyalah berupa pematang sawah. Tanah-tanah disekitarnya masih berupa hamparan sawah. Pada dekade tahun 80-an, sudah mulai banyak warga pindahan yang bermukim di kelurahan Sukapura ini, hingga akhirnya pada saat ini, tempatnya terletak ditengah-tengah pemukiman padat dengan gang yang sempit dan hanya dapat dilalui oleh satu kendaraan beroda empat. Pada dekade itulah perusahaan kerajinan keramik berkembang dengan baik didaerah ini.
       Pada saat krisis moneter melanda, satu persatu perusahaan keramik ini berguguran, dengan hanya menyisakan satu saja pengrajin keramik yang bertahan yakni miliknya dan kini sudah diwariskan kepada puteranya, Pak Wawan. Beberapa tahun yang lalu, perusahaan miliknya masih membuat berbagai model guci dan vas serta model-model pot yang lain. Bahkan permintaan akan jenis guci berukuran besar sempat datang dari Pontianak, padahal di kota Singkawang juga terdapat sentra pengrajin keramik. Semua itu karena ciri khas hasil kerajinan dari Sukapura ini yang berwarna cerah semacam hijau dan krem. Sedangkan yang dihasilkan di Singkawang rata-rata hanya berwarna coklat. Karena permintaan semakin menurun, akibat dari mahalnya ongkos produksi yang merupakan dampak langsung dari konversi minyak tanah ke gas, kini Pak Wawan hanya memenuhi permintaan pasar berdasarkan pesanan. Pesanan yang datang kebanyakan datang dari  Jakarta terutama daerah Rawa Belong dan Senayan. Volume pesanan berkisar sekitar 100 buah perkali pengiriman.
       Tampaknya Pemerintah Daerah masih memperhatikan usaha kecil semacam ini, karena secara berkala ada pameran yang diadakan dan para pengrajin ini berhimpun dalam satu wadah naungan dan binaan dari dinas pemberdayaan masyarakat. Semoga usaha mereka dapat bertahan ditengah-tengah gempuran masuknya keramik impor dari China dan juga semakin mahalnya biaya produksi.

BERSAMBUNG KE BAGIAN DUA.
    

Senin, 12 Januari 2015

LIBURAN AKHIR TAHUN KE PULAU BALI (BAGIAN 5: TANAH LOT, GILIMANUK)

Gapura menuju Pura Tanah Lot






       Hari terakhir liburan di Pulau Bali kami mengunjungi Tanah Lot, sebuah obyek wisata yang terletak di Tabanan, Bali. Minat turis asing tampak sangat besar terhadap kawasan wisata ini, terutama wisatawan yang berasal dari negara-negara Asia. Tampak dari perawakan mereka yang berkulit kuning langsat dan bahasa yang mereka pakai. Sebagian besar adalah turis dari Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. Sebagian lagi adalah turis-turis dari Thailand dan Eropa.
       Sepanjang jalan masuk menuju ke arah pantai dipenuhi kios-kios penjual oleh-oleh. Semua kios tampak ramai di penuhi pengunjung. Barang-barang yang dijual juga beraneka macam dengan harga yang dapat ditawar langsung.

Kios-kios disepanjang jalan menuju Tanah Lot









       Saat kami berkunjung ke Tanah Lot bertepatan dengan upacara penutupan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu di Bali. Pura Besar Tanah Lot dipenuhi oleh umat Hindu Bali yang sedang melaksanakan prosesi penutupan upacara sembahyang. Walau selama upacara sembahyang itu mereka diliput oleh wisatawan, tampaknya tidak mengurangi kekhusyukan dan makna dari prosesi yang mereka lakukan.







Berpose bersama putriku di depan Pura Tanah Lot



       Banyak juga kios-kios yang menjual aneka makanan dan minuman di area wisata ini. Pengunjung yang ingin menikmati sajian kuliner Bali dapat menemukan banyak tempat makan sederhana dan juga restoran tepat di sebelah kiri diseberang Pura Besar.



       Setelah rangkaian upacara selesai, di Bale Gong ada pergelaran musik gamelan Bali. Pertunjukan ini juga tak luput dari jeprat-jepret kamera pengunjung. Hingga akhirnya acara usai, kamipun memutuskan untuk meninggalkan lokasi dan perjalanan selanjutnya adalah menuju ke Gilimanuk.
       Dibawah ini adalah foto suasana di dalam KM Pottre Koneng. Kapal ferinya bersih dan baru, dilengkapi panggung dan organ tunggal, serta KTV dengan layar lebar dan tata suara yang dasyat.
Tak terasa satu jam berlalu dengan cepat dan akhirnya kami sampai di Ketapang untuk melanjutkan perjalanan overland kembali ke Jakarta.
       Bali selalu dinanti, sampai berjumpa lagi.





LIBURAN AKHIR TAHUN KE PULAU BALI (BAGIAN 4: DANAU BRANTAN, PUSAT PENJUALAN OLEH-OLEH)

Pura Ulun Danu


        Hari pertama di tahun 2015, kami mengunjungi Danau Bratan di Bedugul. Perjalanan yang direncanakan sekitar 1 jam, molor menjadi 3 jam karena kemacetan yang luar biasa.





       Minat turis dan wisatawan untuk mengunjungi tempat ini terbilang cukup lumayan. Hal ini dikarenakan lokasi dari Danau Brantan yang terletak di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Singaraja dan Denpasar. Danau Brantan ini sendiri terletak di Kabupaten Tabanan, Bali.

Bersama teman-teman saat mengunjungi Danau Brantan, Bedugul, Bali.

Toko Souvenir





Perahu motor yang disewakan bagi pengunjung yang ingin mengelilingi danau

Kios-kios souvenir murah di area tempat parkir



Pintu masuk utama menuju lokasi danau
       Setelah puas melihat-lihat keindahan Danau Brantan, para pengunjung dapat menikmati sajian kuliner di sekitar lokasi, mulai dari restoran hingga warung-warung mie instan.
Setelah perut kenyang terisi, kami melanjutakan perjalanan menuju surga belanja dan pusat oleh-oleh terkenal di Bali. Apalagi tujuannya bila bukan membeli oleh-oleh untuk keluarga tercinta dirumah.













       Pusat oleh-oleh Krisna memiliki beberapa outlet di Bali, diantaranya adalah:

Krisna Nusa Indah
Jl. Nusa Indah No. 77 Denpasar-Bali
0361-262365, 264780
Krisna Nusa Kambangan
Jl. Nusa Kambangan 160A Denpasar-Bali
0361-8423573, 8423574
Krisna Sunset Road
Jl. Sunset Road No.88 Abian Base Kuta-Bali
0361-750031, 750987
Rama Krisna
Jl. Raya Tuban no.2x Bali
0361-764532
       Hawaii Bali yang merupakan pusat penjualan oleh-oleh ini terletak di Jalan BY Pass Ngurah Rai, Kuta. Walaupun tidak membuka cabang sebanyak Krisna, tetapi tempat ini tak kalah ramainya dibandingkan dengan Krisna, walaupun barang-barang yang dijual disana hampir sama dan serupa.
Perbedaan harga tentu saja ada, walau tipis-tipis.
       Pia Legong adalah nama toko yang menjual kue pia legendaris di Jalan By Pass Ngurah Rai, tepatnya di Ruko Kuta Megah. Pia yang dijual ditempat ini tidak sama dengan merk-merk pia lain yang banyak beredar di Bali. Rasanya lebih renyah dan wangi, selalu fresh dan terdapat tiga pilihan rasa, yakni kacang hijau, keju dan cokelat. Toko buka pada pagi hari sekitar pukul 10.00 dan antrian akan mengular setelahnya. Uniknya, pengunjung hanya diperbolehkan membeli  dalam jumlah tertentu untuk mengantisipasi banyaknya peminat Pia Legong ini. Harganya juga tidak terbilang murah dibandingkan dengan merk-merk lain. Tetapi walau demikian minat beli pengunjung tampak sangat besar dan antusias terutama para pengunjung dari luar Bali.
       Pusat oleh-oleh Agung Bali juga tak kalah ramainya. Interiornya tertata bagus dan rapi. Jenis oleh-oleh yang ditawarkan sedikit berbeda dari toko-toko serupa lainnya. Di Agung Bali terdapat area khusus yang menjual kain tenun khas Bali, seperti tenun rangrang dari Nusa Penida yang sangat terkenal serta kain tenun dengan motif-motif khas Bali lainnya serta produk-produk yang terbuat daripadanya seperti selendang, pashmina, kerudung, tas, dompet serta aneka kerajinan tangan.
       Berkunjung ke Bali tidak klop bila belum mengunjungi Joger, pusatnya oleh-oleh kaos dan kerajinan khas Bali lainnya. Kaos Joger menjadi unik karena kata-kata yang terdapat dalam setiap kaos menjadi ikon untuk menjual wisata Bali dan Joger itu sendiri. Pengunjungnya selalu berdesak-desakan terutama pada hari raya dan musim liburan. Walau demikian, Joger tidak membuka cabang dimanapun di Bali.
       Mengakhiri jalan-jalan dengan menenteng banyak sekali oleh-oleh membawa kesan kepuasan tersendiri. Kalau bukan karena keuangan yang makin menipis dan kedua tangan yang sudah tak kuat menenteng, pastilah tidak ada habisnya yang akan diborong.
       Tapi namanya juga orang penasaran. Tak afdol rasanya ke Bali kalau tidak mampir di Titiles, tempat penjualan daging olahan seperti sosis ham, abon dan dendeng. Untuk abon ada juga pilihan daging sapi. Sedangkan yang lainnya non halal.
       
BERSAMBUNG KE BAGIAN : 5