Selamat Datang

Selamat membaca. Semoga bermanfaat !

Minggu, 08 September 2013

BUDGET TRAVELLING TO SINGAPORE 2013

       Liburan sekolah Juli 2013, berempat kami berangkat ke Singapura. Tiket sudah kami dapatkan sejak bulan Februari, jadi lumayan murah. Perjalanan kali ini kurang lebih sama dengan tahun yang lalu, judulnya budget travelling selama 2 hari.
       Kami tiba pk. 12.30 waktu setempat dan langsung menuju ke daerah Kallang untuk check in disebuah hostel yang sdh kami booking lewat agoda.com. Kamarnya kecil berukuran 3x4m dengan tiga bunkbed. Kondisi kamar sesuai dengan harganya yang murah meriah. Kamar mandi terletak diluar dan dipakai bersama (ada 4 kamar mandi ). Karena kami cuma berada dikamar pada saat mau tidur saja, maka tidak menjadi masalah berada didalam kamar yang kecil. Toh, pagi-pagi kami sudah keluar lagi hingga tengah malam baru kembali.
       Letaknya yang strategis tepat didepan stasiun Kallang dan halte bus membuat kami kemana-mana tidak mengalami kesulitan. Selain itu, terdapat toko roti JCO dan 7/11 serta puluhan rumah makan disekitar hostel ini sehingga mencari makan juga sangatlah mudah.
       Tempat-tempat yang kami kunjungi kali ini adalah Sentosa Island, Chinatown, Merlion Statue, Marina Bay Sands dan Orchard. Tidak seperti tahun yang lalu, kesannya kali ini terasa lebih hambar dan sedikit membosankan. Mungkin karena kali ini sudah tidak ada lagi kejutan-kejutan seperti takut tersesat atau menebak-nebak situasi yang akan dihadapi. Sepertinya bagi mereka yang cepat menyerap dalam mempelajari sesuatu yang baru pastilah akan hafal jalan-jalan di kota kecil Singapura setelah kunjungan yang pertama.
       Tetapi karena kali ini tujuannya adalah menyenangkan buah hati yang sedang liburan sekolah, maka kami senang-senang saja berkeliling dengan mereka dan menikmati suasana yang ada. Bahkan pada terakhir, kami naik bus menuju daerah pemukiman untuk melihat dari dekat kehidupan sehari-hari warga lokal disana.
       Transportasi terhitung menguras kantong juga, karena dalam 2 hari 2 malam menghabiskan S$100. Maklum, lebih banyak naik angkutan daripada jalan kaki. Untuk makan satu hari rata-rata S$100. Itu belum termasuk oleh-oleh untuk teman-teman mereka. Wuih, bukan budget travel namanya. Tetapi sekali lagi, buat buah hati, tak apalah. Just kids!



Minggu, 28 Juli 2013

TENUN IKAT DESA TROSO

       Bertandang ke kota Jepara rasanya kurang afdol bila tidak mampir di Desa Troso, sentranya tenun ikat. Desa ini berada di Kecamatan Pecangaan yang juga merupakan sentra kerajinan seni ukiran di Jepara.
Saat bertandang ke Desa Troso untuk pertama kalinya, kami tidak mengalami kesulitan menemukan lokasi karena terdapat gapura besar di kiri jalan dijalur Demak menuju Jepara.
       Suasananya sepi-sepi pada hari itu, yang kebetulan bukan hari libur. Karena kami baru pertama kali bertandang, maka kami menelusuri sepanjang jalan aspal yang kanan dan kirinya merupakan rumah sekaligus sanggar kerajinan tenun. Suara alat tenun konvensional terdengar dari luar bangunan.
Kami mampir disebuah toko yang terlihat cukup ramai pengunjungnya, yakni Lestari Indah.

       Jenis kain tenun troso. Motif ini bagus untuk kemeja pria atau seragam kantor. Terdapat pilihan motif berdasarkan benang yang dipakai. Ada dua macam motif yang terkenal yakni:
SBY dan OBAMA ( motifnya para presiden? ).

       Harga perlembar kain dengan ukuran 120 cm panjang 200 cm berkisar dari Rp. 120.000 hingga Rp. 140.000. Bila ada benang sutranya bisa lebih mahal lagi.
        Kain tenun beraneka corak ini disebut Misris. Bahannya halus dan memiliki pewarnaan yang unik. Ada yang memakai teknik airbrush sehingga menghasilkan warna dengan gradasi yang indah.
     
       Ada juga yang sedang tren saat itu, yakni motif gradasi pelangi. Tetapi semua kembali lagi kepada selera konsumen. Ada yang menyukai motif demikian dan sebagian lagi menyukai motif yang lainnya.

       Kain tenun yang dipajang beraneka rupa mulai dari syal, kerudung, selimut, sarung bantal dan sprei. Ada juga kain tenun ikat yang masih lembaran. Disudut ruangan terdapat baju-baju kemeja pria.
Sprei tenun
Taplak meja besar
Satu lembar kain tenun ikat ukuran lebar 110 cm dengan panjang 2 meter dijual seharga Rp. 140.000 setelah diskon. Selendang halus dengan ukuran lebar 50 cm dihargai Rp. 35.000. Satu buah sprei ukuran king dijual Rp. 180.000.
       Ditoko ini tidak terlalu banyak pilihan. Bila ingin membeli kain sarimpit dengan motif dan warna pilihan, lebih baik memesan terlebih dahulu. Staf di toko ini sangat ramah dan mereka juga memanjakan pengunjung dengan menyediakan minuman serta camilan gratis.
       Setelah dari tempat ini, kami menyempatkan diri mampir di toko lain yang tampak lebih banyak


ATBM ( Alat Tenun Bukan Mesin )


pajangannya. Tetapi ternyata toko ini memasang harga pas untuk seluruh dagangannya. Sebagai perbandingan saja, sprei dengan ukuran yang sama dibanderol Rp. 220.000, selendang dengan ukuran yang sama tetapi lebih panjang dibanderol Rp. 40.000. Kain tenun dengan ukuran yang sama dijual dengan harga serupa. Tetapi untuk pilihan motif dan ragam warna sangat bervariasi.
       Bila bertandang ke Demak atau Jepara, jangan lupa mampir di Desa Troso.

Sabtu, 15 Juni 2013

PEKAN RAYA JAKARTA DAN KERAK TELOR

       Setiap tahun, bila hari ulang tahun Kota Jakarta tiba, ada perhelatan besar yang tidak boleh dilewatkan yakni Pekan Raya Jakarta atau lebih kerennya disebut PRJ. Tahun ini PRJ masih diadakan di area Kemayoran seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang berbeda adalah tiket masuknya yang setiap tahun selalu naik. Tahun ini HTM PRJ untuk hari Senin sampai Kamis dipatok Rp. 25.000 perorang. Sedangkan akhir pekan, hari Jum'at sampai Minggu, Rp. 30.000 perorang. Untuk parkir mobil dikenakan Rp. 20.000 permobilnya.
       Kami berkunjung dihari kerja pada PRJ tahun ini. Sayangnya cuaca kurang mendukung. Sesampai di PRJ gerimis sudah menyambut, padahal kami sudah mempersiapkan diri untuk tiba di arena sejak sore hari. Waktu menunjukkan pukul 17.00 dan gerimis baru berhenti pada pukul 18.00. Kami melihat-lihat anjungan tertentu, terutama yang bertema otomotif.
       Setelah itu baru menjelajah areal kuliner karena bertepatan dengan waktunya makan malam. Karena gerimis sudah berhenti, panggung hiburanpun mulai ramai penonton yang tumpah ruah ditengah hingar-bingar musik hidup yang memekakkan telinga. Kami tidak turut bergabung dengan keramaian karena suasana hingar-bingar membuat jantungku serasa berdetak tidak karuan. Daripada semaput, lebih baik mencari jajanan. Akhirnya kami menemukan deretan penjual kerak telor disalah satu sudut. Ternyata stand kerak telor disana adalah stand dengan nomor terkecil, stand nomor 1 sampai 5. Aku memilih stand nomor 4 karena panggilan hati saja. Mungkin karena pengaruh dari pelayan2 nya yang tampangnya masih muda-muda. Setelah diperhatikan, sangat mirip dengan bapak yang sedang mengipas-ngipas sambil membuat adonan kerak telor.
       Ritual makan kerak telor selalu jadi agenda bila berkunjung ke PRJ. Bagi kami sekeluarga rasanya tidak afdol bila tidak menikmati sajian khas Betawi ini. Harganya lumayan juga dan rasanya cukup enak. Untuk kerak telor dari telur itik/bebek harganya Rp. 25.000. Sedangkan yang dari telur ayam harganya Rp. 20.000.
       Waktu menunjukkan pukul 20.00 dan gerimis datang kembali. Kami memutuskan untuk pulang lebih awal. Di area parkir tidak terlalu penuh seperti bila akhir pekan. Kami keluar dengan lancar tanpa antrian berarti. Sesampai diluar area PRJ, masih tampak barisan pedagang kerak telor yang berjejer disepanjang trotoar. Mereka memakai tenda seadanya untuk melindungi diri dan gerobak pikulannya dari terpaan hujan.
       Ada rasa iba melihat mereka juga berlomba-lomba ingin memetik keuntungan dari perhelatan besar tahunan ini. Oleh sebab itu, kami menepi untuk melihat dari dekat. Tampak seorang pedagang tergopoh-gopoh menghampiri dan bertanya, apakah kami mau membeli? Sebenarnya kami sudah membeli kerak telor untuk oleh-oleh tadi didalam. Tetapi karena tidak enak hati, kami mengiyakan dan bertanya pada bapak tersebut berapa harga kerak telor yang dijualnya.
       Ternyata diluar arena, kerak telor bisa ditawar. Bapaknya menawarkan kerak telor dari telur itik Rp.13.000 dan dari telur ayam Rp. 12.000. Kami turun dari kendaraan dan mencoba menawar harga kerak telor dari telur itik agar disamakan dengan yang dari telur ayam. Sang Bapak mengiyakan saja sehingga jadilah kami membeli dua porsi lagi.
       Ternyata untuk berjualan ditempat ini, sang Bapak harus merogoh kocek Rp. 350.000 sebulan. Kalau stand yang didalam arena PRJ dikenai Rp. 4.000.000 perbulan. Para pedagang ini adalah pedagang musiman alias hanya berdagang bila ada event tertentu di Arena PRJ. Sedangkan Bapak pedagang yang kami temui di trotoar ini adalah pedagang kerak telor sejati. Dia punya lapak di dekat pintu masuk Kebun Binatang Ragunan tepat dibawah pohon besar.
       Berbeda setelan dengan pedagang didalam arena yang rapi dan dibantu oleh sekurang-kurangnya empat orang pelayan yang berseragam, pedagang ditrotoar semuanya solo alias sendirian saja. Karena gerimis sudah mulai reda, tampak senyum diwajah si Bapak saat kami berterima kasih dan pamit padanya karena sudah mau berbagi berbagai obrolan.
       Walaupun perhelatan ini rutin dan dari tahun ke tahun selalu sama, kami senang berkunjung kesana. Bila HTM nya senantiasa naik dari tahun ke tahun, mungkin lama-lama hanya 'orang mampu' saja yang bisa menikmati pesta rakyat ini.