Selamat Datang

Selamat membaca. Semoga bermanfaat !

Sabtu, 04 Januari 2014

PESONA SOLO

       Liburan Natal dan akhir tahun 2013 yang lalu, kami berkunjung ke Solo.
Perjalanan melalui jalur pantura, tanpa kemacetan berarti. Karena jalannya santai dan tujuannya memang untuk berlibur, maka kami singgah di banyak tempat untuk istirahat terutama untuk waktunya makan. Bahkan kami sempat bermalam di Semarang.
       Saat memasuki kota Boyolali, sudah terasa nuansa kota besar yang akan dituju, yakni Solo. Jalan penghubung utama antara kota Boyolali dan Solo cukup
                                        lebar.



       Bangunan disepanjang jalan juga sudah megah, terdiri dari gedung perkantoran, pertokoan serta pasar tradisional. Saat memasuki wilayah pusat kota, tampak lalu lintas cukup padat namun tidak terjadi kemacetan. Solo menerapkan lalu lintas yang tertib sebagai contoh perilaku terpuji bagi masyarakat kotanya.





       Ketika mengunjungi Kampung Batik Laweyan yang terletak di Jalan Dr. Radjiman, suasana tampak hening dan sepi, mungkin karena bertepatan dengan Hari Raya Natal dan libur akhir tahun. Namun tampaknya semua galery dan toko-toko disana buka seperti biasanya.

Peta petunjuk jalan didalam area Kampung Batik Laweyan, lengkap dengan nama toko dan galerinya.

Salah satu galeri di Laweyan

Suasana di Kampung Batik Laweyan

Salah satu sudut Kampung Batik Laweyan

Fasad depan salah satu galeri batik, teralisnya bermotif batik.

Salah satu penginapan murah didalam area Laweyan. Tarifnya hanya Rp. 90.000 per-malam.
        Saat pengunjung baru saja memasuki perkampungan batik, biasanya akan disambut ramah oleh para tukang becak yang mangkal di sudut-sudut jalan. Mereka akan menawarkan jasa mengantar tamu menuju sebuah galeri atau toko batik atau pabrik, maksudnya adalah tempat/rumah pembuatan kain batik. Masing-masing dari tukang becak ini punya penawarannya sendiri. Tafsiran saya, karena mereka kemungkinan dibayar atau disewa atau mendapatkan tips untuk mempromosikan salah satu pabrik batik dari sekian banyak yang terdapat disana.
       Karena saya hanya mau cuci mata, maka saya tidak memakai jasa para tukang becak ini, melainkan menuju ke galeri batik yang saya perhatikan cukup banyak koleksi dan bagus penataannya. Yang lucunya, dikomentari oleh para tukang becak bahwa harga batik yang dijual disitu mahal. Walah....
      
Keramaian di dalam Solo Grand Mall


        Ternyata di Solo sedang digelar acara Maleman Sekaten 2014, yakni acara sejenis bazaar rakyat yang digelar di alun-alun utara Keraton Solo. Biasanya ditempat ini memang selalu ramai karena banyak sekali penjual souvenir khas Solo yang berdagang disana. Dengan digelarnya bazaar ini, jalan menjadi macet luar biasa. Kemacetan makin menjadi setelah hari menjelang malam karena pengunjung membludak.

Suasana di Malioboro Inn Solo.

Pasar Triwindu
        Kami menginap di Malioboro Inn, sebuah hotel yang cukup baik di Solo. Tarifnya Rp. 375.000 per-malam untuk kamar dengan dua queen bed dan sarapan pagi prasmanan untuk dua orang.
Hotel ini terletak di area Laweyan, yakni di Jalan Dr. Radjiman No. 505. Hotel ini bersih dan asri serta memiliki sebuah kolam renang untuk anak-anak.

Gerbang Pasar Klewer.
       Kami mengunjungi Pasar Klewer, pusatnya perdagangan batik di Solo pada keesokan harinya.
Suasananya masih sepi saat kami kesana, karena baru jam 9 pagi. Banyak toko yang baru bersiap-siap buka pada saat itu. Pasar Klewer sendiri merupakan sebuah bangunan berlantai 3 yang semuanya terdiri dari pedagang batik, kaos bola, pakaian dalam, baju muslim dan kerudung. Batik yang dimaksud disini adalah kain-kain batik, busana batik siap pakai, sprei, sarung bantal, gordyn, dan lain-lain yang semuanya terbuat dari bahan batik. Sedangkan di sekitar lokasi pasar terdapat berderet-deret toko batik dan aneka busana lainnya.
       Saat akan menuju ke lokasi Pasar Klewer, terulang kejadian seperti di Kampung Batik Laweyan. Tukang parkir memberitahu kami bahwa harga batik di Pasar Klewer lebih mahal daripada harga batik di dalam sebuah gang yang ternyata terdapat banyak sekali kios dan toko. Karena tujuan kami selain berbelanja batik di Solo adalah juga hendak melihat-lihat semua tempat yang menjajakan batik, maka kami mengiyakan saja sambil berkata bahwa kami mau melihat-lihat ke pasar terlebih dahulu. Mereka tidak menyerah dan meyakinkan bahwa harga disana benar-benar mahal sedangkan pedagang didalam gang yang ditunjuk adalah toko dan galeri para pemilik pabrik dengan harga yang jauh lebih murah. Didalam hati saya bergumam, andai setiap pengunjung yang akan berbelanja di Pasar Klewer selalu di "suntik" bahwa disana batiknya lebih mahal, lama-lama bisa sepi deh.


        Akhirnya setelah berkeliling didalam Pasar Klewer, kami mampir ke dalam gang kecil yang ternyata memang jauh lebih ramai pengunjungnya dibandingkan dengan yang di dalam Pasar Klewer. Ternyata nama tempat itu Kampung Baladan dan merupakan bagian dari Kampung Batik Kauman.
       Yang lucunya, sesampai disalah satu toko yang cukup ramai, kami dihentikan oleh seorang ibu separuh baya yang berkata bahwa harga batik didalam toko ini mahal dan bila mau yang murah, ia bersedia mengantar kami menuju pabrik batik yang letaknya tidak jauh dari sana. Duh..ternyata calo semua mereka itu. Entah dibayar berapa oleh para empunya toko atau galeri atau pabrik untuk menarik pengunjung ke tempat mereka. Cape deh..
       Selain kain batik dan pakaian batik, banyak juga souvenir yang dijual di tempat ini. Ada kaos promosi Kota Solo, topi, gantungan kunci, wayang dan sebagainya. Harganya bisa ditawar. 
       Lokasi lain yang kami kunjungi adalah Solo Baru yang merupakan daerah pemukiman dan perkantoran serta pertokaan terpadu di pinggiran kota Solo. Sekilas nampak seperti Kelapa Gading yang di Jakarta.
      
Patung di Solo Baru

Salah satu karya seni di Solo Baru

Salah satu hotel berbintang di Solo Baru
Salah satu Mall di Solo Baru

'The Park' di Solo Baru
        Untuk urusan kuliner, Solo adalah jempolnya. Banyak sekali tempat makan yang bisa dikunjungi, mulai dari soto ayam kampung di Gading, soto kwali daging sapi di dekat Pasar Triwindu sampai gudeg ceker ala lesehan didekat Matahari Singosaren. Tidak lupa mencoba Tengkleng dan Asem-asem Kikil di Dapur Solo yang letaknya persis disebelah Palang Kereta Purwosari, Jalan Slamet Riyadi, Solo. Ada juga chinese food yang enak di Tirai Bambu. Pokoknya untuk urusan perut, dijamin puas.
        Sebelum kembali ke rumah, tentu tidak lupa membeli oleh-oleh. Kami mampir di Toko Roti Orion yang terletak di Jalan Urip Sumoharjo, Solo. Toko roti ini sangat terkenal karena kue mandarijn-nya yang legendaris. Wangi kue sudah tercium dari jarak sekitar 100 meter, karena toko ini membuat langsung kue-kue mereka didalamnya. Harganya bervariasi mulai dari yang Rp. 75.000 untuk yang biasa dan Rp 90.000 untuk yang spesial. Ukurannya 25x25 cm. Untuk yang ukuran lebih besar harganya lebih mahal.
Rasanya sangat enak, seperti kue lapis surabaya, tetapi hanya dua lapis, dengan pilihan kuning-kuning atau kuning-coklat dan diberi olesan selai dan teksturnya lebih ringan bila dibandingkan dengan lapis surabaya, serta tidak mengenyangkan.
       Selain kue mandarijn, ada juga macam-macam oleh-oleh seperti abon solo dengan berbagai rasa, serta gibang dan olahan dari talas. Harganya cukup terjangkau.
Tentu tidak lupa membeli kecap khas Solo, Kecap Manis Cap Lombok Gandaria dan Cap Bagong. Selain itu ada juga Cap Cinderela dan Cap Semar.
       Kembali kerumah dengan perasaan puas dan senang serta keinginan untuk bertandang kembali ke Solo, suatu saat...